BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Myasthenia
Gravis adalah kelemahan otot yang parah dan
merupakan salah satu kelainan imun bawaan yang cukup langka. Di Amerika
prevalensi penyakit ini adalah 2 dari setiap 1.000.000 penduduk. Namun,
akhir-akhir ini prevalensi meningkat, terutama di Amerika Serikat, yang
berkisar antara 0,5-14,2 kasus per 100,000 orang. Sedangkan di dunia, miastenia
gravis mempengaruhi sekitar 400 per 1 juta orang.
Sindrom
klinis ini dikemukakan pertama kali pada tahun 1600. Pada akhir tahun 1800-an,
miastenia gravis mulai dibedakan dari kelemahan otot akibat paralysis bulbar.
Pada tahun 1920, seorang dokter yang menderita miastenia gravis merasa ada
perbaikan sesudah ia meminum obat efedrin yang ditujukan untuk mengatasi kram
menstruasi. Akhirnya pada tahun 1934 Mary Walker, seorang dokter dari Inggris,
melihat adanya gejala-gejala yang serupa antara miastenia gravis dan keracunan
kurare. Mary Walker menggunakan antagonis kurare yaitu fisostigmin untuk
mengobati miastenia gravis dan ternyata ada kemajuan-kemajuan yang nyata.
Penyakit
ini biasanya menunjukkan karakteristik yang khas, yaitu kelemahan pada otot
rangka yang biasanya disertai nyeri ketika menggerakkan otot. Dicurigai,
kondisi ini disebabkan karena kelainan immunologis yang menyerang otot.
Penyakit ini dapat menyerang pada berbagai usia, tetapi paling sering menyerang
pada wanita berusia antara 15-35 tahun serta pada pria 40-an tahun.
Tingkat
kematian pada waktu lampau dapat mencapai 90%. Kematian biasanya disebabkan
oleh insufisiensi pernafasan. Jumlah kematian telah berhasil dikurangi secara
drastis melalui pengobatan dan perawatan pernapasan. Namun, tetap saja,
penyakit ini dapat menyebabkan kematian apabila penanganan dan perawatannya
tidak tepat. Oleh karena itu, penulis menyusun makalah ini guna membahas
mengenai miastenia gravis dan asuhan keperawatannya.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Mengetahui definisi miastenia gravis
1.2.2 Mengetahui etiologi miastenia gravis
1.2.3 Mengetahui patofisiologi miastenia gravis
1.2.4 Mengetahui manifestasi klinis miastenia
gravis
1.2.5 Mengetahui manifestasi klinis miastenia
gravis
1.2.6 Mengetahui pemeriksaan diagnostik miastenia
gravis
1.2.7 Mengetahui penatalaksanaan miastenia gravis
1.2.8 Mengetahui komplikasi miastenia gravis
1.2.9 Mengetahui asuhan keperawatan pada klien
dengan miastenia gravis
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Mahasiswa
mampu dan mengerti konsep dasar miastenia gravis
1.3.2 Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan
pada klien dengan miastenia gravis
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1
Definisi
Miastenia
gravis merupakan gangguan yang memengaruhi transmisi neuromuskular pada otot
tubuh yang kerjanya di bawah kesadaran seseorang (volunter). Istilah miastenia
gravis berarti kelemahan otot yang parah. Kondisi ini merupakan satu-satunya
penyakit neuromuskular yang merupakan kombinasi antara cepatnya terjadi
kelemahan otot-otot volunter dan lambatnya pemulihan yang dapat memakan waktu
10 hingga 20 kali lebih lama dari normal (Muttaqin, 2009). Miastenia gravis
(MG) adalah suatu kelainan autoimun saraf perifer berupa terbentuknya antibodi
terhadap reseptor pascasinaptik asetilkolin (ACh) nikotinik pada myoneural
junction. Penurunan jumlah reseptor ACh ini menyebabkan penurunan kekuatan
otot yang progresif dan terjadi pemulihan setelah beristirahat.
Miastenia gravis
menghasilkan kelemahan progresif dan sporadis, serta kelelahan abnormal pada
otot skeletal, yang bertambah buruk setelah latihan atau pengulangan gerakan.
Biasanya, gangguan ini menyerang otot yang dikendalikan oleh saraf kranial
(wajah, bibir, lidah, leher, dan tenggorokan), tetapi dapat juga menyerang
otot-otot lainnya. Miastenia gravis menyebabkan kegagalan dalam transmisi
impuls saraf pada sambungan neuromuskuler akibat reaksi autoimun atau tidak
berfungsinya aktivitas neurotransmiter.
Miastenia Gravis menyerang
semua usia, paling banyak ditemukan pada usia 20-40 tahun. Miastenia Gravis
menyerang wanita 3 kali lebih banyak daripada pria, tetapi setelah usia 40
tahun, penyakit ini menyerang pria dan wanita secara seimbang. Sedangkan bayi
yang dilahirkan oleh ibu Miastenia gravis akan memiliki Miastenia tidak
menetap/transient (kadang permanen) dengan persentase 20%. Penyakit ini
akan muncul bersamaan dengan gangguan sistem kekebalan dan gangguan tiroid.
Sekitar 15% dari penderita Miastenia Gravis mengalami thymoma (tumor yang
dibentuk oleh jaringan kelenjar timus). Remisi terjadi pada 25% penderita
penyakit ini.
2.2
Etiologi
Penyebab
miastenia gravis masih belum diketahui secara pasti, diduga kemungkinan terjadi
karena gangguan atau destruksi reseptor asetilkolin (Acetyl Choline Receptor
(AChR)) pada persimpangan neoromuskular akibat reaksi autoimun. Etiologi
dari penyakit ini adalah:
1.
Kelainan
autoimun: direct mediated antibody, kekurangan AChR, atau kelebihan
kolinesterase
2.
Genetik:
bayi yang dilahirkan oleh ibu MG
Faktor
risiko yang mempengaruhi terjadinya miastenia gravis adalah:
3.
Infeksi
(virus)
4.
Pembedahan
5.
Stress
6.
Perubahan
hormonal
7.
Alkohol
8.
Tumor
mediastinum
9.
Obat-obatan:
a. Antikolinesterase
b. Laksative atau enema
c. Sedatif
d. Antibiotik (Aminoglycosides,
ciprofloxacin, ampicillin, erythromycin)
e. Potassium depleting diuretic
f. Narkotik analgetik
g. Diphenilhydramine
h. B-blocker (propranolol)
i. Lithium
j. Magnesium
k. Procainamide
l. Verapamil
m. Chloroquine
n. Prednisone
2.3
Patofisiologi
Dalam
kasus Myasthenia Gravis, terjadi penurunan jumlah Acetyl Choline
Receptor (AChR) yang mengakibatkan Acetyl Choline (ACh) yang tetap
dilepaskan dalam jumlah normal, tidak dapat mengantarkan potensial aksi menuju
membran post-synaptic. Kekurangan reseptor dan kehadiran ACh yang tetap
pada jumlah normal akan mengakibatkan penurunan jumlah serabut saraf yang
diaktifkan oleh impuls tertentu, sehingga menyebabkan rasa sakit pada
pasien. Pengurangan jumlah AChR ini
diduga akibat proses auto-imun dalam tubuh oleh sel B yang memproduksi anti-AChR
bodies, yang dapat memblok AChR dan merusak membran post-synaptic.
Menurut Shah (2006), anti-AChR bodies ditemukan pada 80-90% pasien
Myasthenia Gravis.

Pada orang normal, jumlah
asetilkolin yang dilepaskan sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan potensial
aksi. Bila ada impuls saraf mencapai hubungan
neuromuskular, maka membran akson terminal presinaps mengalami depolarisasi
sehingga asetilkolin akan dilepaskan dalam celah sinaps. Asetilkolin berdifusi
melalui celah sinaps dan bergabung dengan reseptor asetilkolin pada membran
postsinaps. Penggabungan ini menimbulkan perubahan permeabilitas terhadap
natrium dan kalium secara tiba-tiba menyebabkan depolarisasi lempeng akhir
dikenal sebagai potensial lempeng akhir (EPP). Jika EPP ini mencapai ambang
akan terbentuk potensial aksi dalam membran otot yang tidak berhubungan dengan
saraf, yang akan disalurkan sepanjang sarkolema. Potensial aksi ini memicu
serangkaian reaksi yang mengakibatkan kontraksi serabut otot. Sesudah transmisi
melewati hubungan neuromuscular terjadi, astilkolin akan dihancurkan oleh enzim
asetilkolinesterase.
Sedangkan
pada miastenia gravis, konduksi neuromuskular terganggu karena kehilangan kemampuan atau
hilangnya reseptor normal membran postsinaps pada sambungan
neuromuskular. Jumlah asetilkolin penderita berkurang akibat cedera autoimun.
Abnormalitas dalam penyakit ini terjadi pada endplate motorik dan bukan
pada membran presinaps. Membran postsinaptiknya rusak akibat reaksi imunologi.
Karena kerusakan itu maka jarak antara membran presinaps dan postsinaps menjadi
besar sehingga lebih banyak asetilkolin dalam perjalanannya ke arah motor
endplate dapat dipecahkan oleh kolinesterase. Selain itu jumlah asetilkolin
yang dapat ditampung oleh lipatan-lipatan membran postsinaps motor end late menjadi
lebih kecil. Karena dua faktor tersebut maka kontraksi otot tidak dapat
berlangsung lama.
2.4 Manifestasi
Klinis
Penderita
Myasthenia Gravis biasanya menunjukkan karakteristik yang khas, yaitu
kelemahan pada otot skeletal yang memburuk ketika digerakkan dan membaik ketika
beristirahat. Pada
tahap awal, otot-otot tertentu mudah terkena kelelahan, tetapi tidak ditemukan
gejala lain. Kemudian, gejala ini semakin parah dan dapat menyebabkan
kelumpuhan. Biasanya, otot terasa kuat pada pagi hari dan melemah sepanjang
hari, terutama setelah latihan atau pengulangan gerakan. Istirahat singkat
untuk sementara waktu dapat mengembalikan fungsi otot, tetapi lemah otot
semakin berkembang dan akhirnya beberapa otot menjadi tidak berfungsi sama
sekali. Gejala yang terjadi bergantung pada otot yang diserang. Gejala ini akan
semakin parah pada masa haid dan setelah stres emosional, terlalu lama terkena
sinar matahari atau udara dingin, serta infeksi.
Karakteristik
yang lain adalah:
a.
kelemahan
otot ekstra okular atau EOM yang menyebabkan Ptosis (turunnya kelopak
mata), penglihatan ganda (dislobia);
b.
kelemahan
otot wajah (otot mimik);
c.
kelemahan
otot bulbar (otot-otot lidah) yang mengakibatkan regurgitasi cairan hidung dan kesulitan
mengunyah dan menelan;
d.
kelemahan
otot leher dan tenggorokan yang menyebabkan kesulitan makan dan menelan;
e.
kelemahan
otot pada jari-jari, tangan, dan kaki (seperti gejala stroke tapi tidak
disertai gejala stroke lainnya);
f.
gangguan
bicara (disfonia);
g.
gejala
berat berupa kelemahan otot pernapasan (respiratory paralysis):
kelemahan otot interkostal dan diafragma progresif yang menyebabkan retensi CO2
dan hipoventilasi yang akhirnya mengakibatkan gagal napas, kelemahan otot
faring yang menyebabkan gagal saluran pernapasan atas.
2.5 Klasifikasi
Secara
umum, Miastenia gravis dibagi menjadi empat golongan (Dewanto, dkk; 2009),
yaitu:
a.
Golongan
I: Miastenia Okuler
Gejala-gejala
hanya tampak pada otot okular saja, disertai ptosis dan diplopia yang ringan
b.
Golongan
IIA: Miastenia Umum Ringan
Gejala
okular, yang menyebar pada otot rangka dan bulbar, serta kelemahan dan
kelelahan umum yang ringan
c.
Golongan
IIB: Miastenia Umum Sedang
Gejala
okular, terserangnya seluruh otot rangka dan bulbar yang sringan atau edang,
kelelahan umum yang sedang, disertai kelemahan otot okular dan bulbar yang
ringan atau sedang, disartria, disfagia,
dan sukar mengunyah respon terhadap terapi obat kurang memuaskan dan aktivitas
pasien terbatas.
d.
Golongan
III: Miastenia Berat Akut
Kelemahan
dan kelelahan otot rangka dan bulbaar yang berat, disertai mulai terserangnya otot-otot pernapasan. Penyakit berkembang maksimal dalam waktu 6
bulan, respon terahdap terapi obat buruk, iinggii nsiden krisis miasenik,
kolinergik, maupun krisis gabungan keduanya.
e.
Golongan
IV: Miastenia Berat Lanjut
Krisis
miastenia atau miastenia gravis kronis yang berat, timbul paling sedikit 2
tahun sesudah awitan gejala pada golongan I dan
II, yang berkembang secara perlahan-lahan dan tiba-tiba. Respons
terhadap terapi obat dan prognosis buruk.
Sedangkan
berdasarkan The Medical Scientific Advisory Board (MSAB) of the Myasthenia
Gravis Foundation of America (MGFA), klasifikasi miastenia gravis
adalah sebagai berikut.
a.
Class
I
1) Kelemahan otot okular
2) Gangguan menutup mata
3) Otot yain lain masih normal
b.
Class
II
1) Kelemahan ringan pada otot selain okular
2) Kelemahan otot okular meningkat
c.
Class
IIa
1) Mulai mempengaruhi ekstrimitas
2) Sedikit mempengaruhi otot-otot oropharyngeal
d.
Class
IIb
1) Mempengaruhi otot-otot oropharyngeal
dan pernapasan
2) Mempengaruhi ekstrimitas
e.
Class
III
1) Kelemahan sedang pada otot selain okuler
2) Meningkatnya kelemahan pada otot okuler
f.
Class
IIIa
1) Mempengaruhi ektrimitas
2) Sedikit mempengaruhi otot-otot oropharyngeal
g.
Class
IIIb
1) Mempengaruhi otot-otot oropharyngeal dan
pernapasan
2) Mempengaruhi ekstrimitas
h.
Class
IV
1) Kelemahan berat pada selain otot okuler
2) Kelemahan berat pada otot okuler
i.
Class
IVa
1) Mempengaruhi ekstrimitas
2) Sedikit pengaruh pada otot-otot oropharyngeal
j.
Class
IVb
1) Terutama mempengaruhi otot-otot
pernapasan dan oropharyngeal
2) Mempengaruhi otot-otot ekstrimitas
k.
Class
V
1) Pasien yang membutuhkan intubasi
(kecuali pada kasus post-operative)
Selain
klasifikasi tersebut, terdapat pula beberapa bentuk varian miastenia gravis,
sebagai berikut.
a.
Miastenia
neonatus
Jenis
ini hanya bersifat sementara, biasanya kurang dari bulan. Terjadi pada bayi
yang ibunya menderita miastenia gravis, dengan kemungkinan 1 : 8, yang disebabkan oleh masuknya antibodi
antireseptor asetilkolin ke dalam melalui plasenta.
b.
Miastenia
anak-anak (juvenile myastenia)
Jenis
ini mempunyai karakteristik yang sama dengan miastenia gravis pada dewasa.
c.
Miastenia
kongenital
Biasanya
muncul tidak lama setelah bayi lahir. Tidak ada kelainan imunologik dan
antibodi antireseptor asetilkolin tidak ditemukan. Jenis ini biasanya tidak
progresif.
d.
Miastenia
familial
Sebenarnya,
jenis ini merupakan kategori diagnostik yang tidak jelas. Biasa terjadi pada
miastenia kongenital dan jarang terjadi pada miastenia gravis dewasa.
e.
Sindrom
miastenik (Eaton-Lambert Syndrome)
Jenis
ini merupakan gangguan presinaptik yang dicirikan oleh terganggunya pengeluaran
asetilkolin dari ujung saraf. Sering kali berkaitan dengan karsinoma bronkus (small-cell
carsinoma). Gambaran kliniknya berbeda dengan miastenia gravis, umumnya
penderita mengalami kelemahan otot-otot proksimal tanpa disertai atrofi,
gejala-gejala orofaringeal dan okular tidak mencolok, dan refleks tendo menurun
atau negatif, dan mengeluh mulutnya kering.
f.
Miastenia
gravis antibodi-negatif
Kurang
lebih ¼ dari penderita miastenia gravis tidak menunjukkan adanya antibodi. Pada
umumnya keadaan demikian terdapat pada pria dari golongan I dan IIB. Tidak
adanya antibodi menunjukkan bahwa penderita tidak akan memberi respons terhadap
pemberian prednison, obat sitostatik, plasmaferesis, atau timektomi.
g.
Miastenia
gravis terinduksi penisilamin
D-penisilamin
(D-P) digunakan untuk mengobati arthritis rheumatoid, penyakit Wilson, dan
sistinuria. Setelah penderita menerima D-P beberapa bulan, penderita mengalami
miastenia gravis yang secara perlahan-lahan akan menghilang setelah D-P
dihentikan.
h.
Botulisme
Botulisme
merupakan akibat dari bakteri anaerob, Clostridium botulinum, yang menghalangi
pengeluaran asetilkolin dari ujung saraf motorik. Akibatnya terjadi paralisis
berat otot-otot skelet dalam waktu yang lama. Dari 8 jenis toksin botulinum,
tipe A dan B paling sering menimbulkan kasus botulisme. Tipe E terdapat pada
ikan laut (sea food). Intoksikasi biasanya terjadi setelah makan makanan
dalam kaleng yang tidak disterilisasi secara sempurna. Mula-mula timbul mual
dan muntah, 12-36 jam sesudah terkena toksin. Kemudian muncul pandangan kabur,
disfagia, dan disartri. Pupil dapat dilatasi maksimal. Kelemahan terjadi pola
desendens selama 4-5 hari, kemudian mencapai tahap stabil (plateau).
Paralisis otot pernapasan dapat terjadi begitu cepat dan bersifat fatal. Pada
kasus yang berat biasanya terjadi kelemahan otot okular dan lidah. Sebagian
besar penderita mengalami disfungsi otonom (mulut kering, konstipasi, retensi
urin).
2.6 Pemeriksaan
Diagnostik
Diagnosis
dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Diagnosis
dapat dibantu dengan meminta pasien melakukan kegiatan berulang sampai timbul
tanda-tanda kelelahan. Untuk kepastian diagnosisnya, maka diperlukan tes
diagnostik sebagai berikut:
a.
Antibodi
anti-reseptor asetilkolin
Antibodi
ini spesifik untuk miastenia gravis, dan sangat berguna untuk menegakkan
diagnosis. Titer antibodi ini meninggi pada 90% penderita miastenia gravis
golongan IIA dan IIB, dan 70% penderita golongan I. Titer antibodi ini umumnya
berkolerasi dengan beratnya penyakit.
b.
Antibodi
anti-otot skelet (anti-striated muscle antibody)
Antibodi
ini ditemukan pada lebih dari 90% penderita dengan timoma dan lebih kurang 30%
penderita miastenia gravis. Penderita yang dalam serumnya tidak ada antibodi
ini dan juga tidak ada antibodi anti-reseptor asetilkolin, maka kemungkinan
adanya timoma adlah sangat kecil.
c.
Tes
tensilon (Edrofonium klorida)
Tensilon
adalah suatu penghambat kolinesterase. Tes ini sangat bermanfaat apabila
pemeriksaan antibodi anti-reseptor asetilkolin tidak dapat dikerjakan, atau
hasil pemeriksaannya negatif sementara secara klinis masih tetap diduga adanya
miastenia gravis. Apabila tidak ada efek samping sesudah tes 1-2 mg intravena,
maka disuntikkan lagi 5-8 mg tensilon. Reaksi dianggap positif apabila ada
perbaikan kekuatan otot yang jelas (misalnya dalam waktu 1 menit),
menghilangnya ptosis, lengan dapat dipertahankan dalam posisi abduksi lebih
lama, dan meningkatnya kapasitas vital. Reaksi ini tidak akan berlangsung lebih
lama dari 5 menit. Jika diperoleh hasil yang positif, maka perlu dibuat
diagnosis banding antara miastenia gravis yang sesungguhnya dengan sindrom
miastenik. Penderita sindrom miastenik mempunyai gejala-gejala yang serupa
dengan miastenia gravis, tetapi penyebabnya ada kaitannya dengan proses
patologis lain seperti diabetes, kelainan tiroid, dan keganasan yang telah
meluas. Usia timbulnya kedua penyakit ini merupakan faktor pembeda yang
penting. Penderita miastenia sejati biasanya muda, sedangkan sindrom miastenik
biasanya lebih tua. Gejala-gejala sindrom miastenik biasanya akan hilang kalau
patologi yang mendasari berhasil diatasi. Tes ini dapat dikombinasikan dengan
pemeriksaan EMG.
d.
Pengukuran
EMG (Elektromiografi)
Potensial
aksi otot rangka memperlihatkan penurunan amplitudo pada stimulasi neuron
motorik.
e.
Foto
dada
Foto
dada dalam posisi antero-posterior dan lateral perlu dikerjakan, untuk melihat
apakah ada timoma. Bila perlu dapat dilakukan pemeriksaan dengan sken
tomografik.
f.
Tes
Wartenberg
Bila
gejala-gejala pada kelopak mata tidak jelas, dapat dicoba tes Wartenberg.
Penderita diminta menatap tanpa kedip suatu benda yang terletak di atas bidang
kedua mata beberapa lamanya. Pada miastenia gravis kelopak mata yang terkena
menunjukkan ptosis.
g.
Tes
prostigmin
Prostigmin
0,5-1,0 mg dicampur dengan 0,1 mg atropin sulfas disuntikkan intramuskular atau
subkutan. Tes dianggap positif apabila gejala-gejala menghilang dan tenaga
membaik.
2.7 Penatalaksanaan
Menurut
Corwin (2009), penatalaksanaan pada pasien dengan miastenia gravis adalah:
A. Periode istirahat yang sering selama
siang hari untuk menghemat kekuatan
B. Timektomi (pengangkatan timus melalui
pembedahan)
Pada
penderita tertentu perlu dilakukan timektomi. Perawatan pasca operasi dan
kontrol jalan napas harus benar-benar diperhatikan. Melemahnya penderita
beberapa hari pasca operasi dan tidak bermanfaatnya pemberian antikolinesterase
sering kali merupakan tanda adanya infeksi paru-paru. Hal ini harus segera diatasi
dengan fisioterapi dan antibiotik.
C. Plasmaferesis (dialisis darah dengan
pengeluaran antibodi IgG)
Tiap
hari dilakukan penggantian plasma sebanyak 3-8 kali dengan dosis 50 ml/kg BB.
Plasmaferesis mungkin efektif pada krisis miastenik karena kemampuannya untuk
membuang antibodi pada reseptor asetilkolin, tetapi tidak bermanfaat pada
penanganan kasus kronik.
D. Terapi farmakologi
1.
Antikolinesterase
(piridostigmin 30-120 mg per oral tiap 3 jam atau neostigmin bromida 15-45 mg
per oral tiap 3 jam) untuk memperpanjang waktu paruh asetilkolin di taut
neuromuskular. Pemberian antikolinesterase sangat bermanfaat pada miastenia
gravis golongan IIA dan IIB. Efek samping pemberian antikolinesterase
disebabkan oleh stimulasi parasimpatis, termasuk konstriksi pupil, kolik,
diare, salivasi berkebihan, berkeringat, lakrimasi, dan sekresi bronkial
berlebihan.
2.
Steroid
(prednisolon sekali sehari secara selang-seling/alternate days dengan dosis
awal kecil (10 mg) dan dinaikkan secara bertahap (5-10 mg/minggu). Apabila
sudah ada perbaikan klinis maka dosis diturunkan secara perlahan-lahan (5
mg/bulan) dengan tujuan memperoleh dosis minimal yang efektif. Perubahan
pemberian prednisolon secara mendadak harus dihindari.
3.
Azatioprin
(merupakan obat imunosupresif dengan efek samping lebih sedikit jika
dibandingkan dengan steroid, yaitu berupa gangguan saluran cerna, peningkatan
enzim hati, dan leukopenia). Obat ini diberikan dengan dosis 2,5 mg/kg BB
selama 8 minggu pertama. Setiap minggu harus dilakukan pemeriksaan darah
lengkap dan fungsi hati. Sesudah itu pemeriksaan laboratorium dikerjakan setiap
bulan sekali.
4.
Obat
anti-inflamasi untuk membatasi serangan autoimun
2.8 Komplikasi
Miastenia
gravis dikatakan berada dalam krisis jika ia tidak dapat menelan, membersihkan
sekret, atau bernapas secara adekuat tanpa bantuan alat-alat. Ada dua jenis
krisis yang terjadi sebagai komplikasi dari miastenia gravis (Corwin, 2009),
yaitu:
1)
Krisis
miastenik
Ditandai dengan perburukan berat fungsi
otot rangka yang memuncak pada gawat napas dan kematian karena diafragma dan
otot interkostal menjadi lumpuh. Dalam kondisi ini, dibutuhkan
antikolinesterase yang lebih banyak. Keadaan ini dapat terjadi pada kasus yang
tidak memperoleh obat secara cukup, terjadi setelah pengalaman yang menimbulkan
stres seperti penyakit, gangguan emosional, pembedahan, atau selama kehamilan,
serta infeksi. Tindakan terhadap kasus ini adalah:
a)
kontrol
jalan napas
b)
pemberian
antikolinesterase
c)
bila
diperlukan: obat imunosupresan dan plasmaferesis
Bila
pada krisis miastenik pasien tetap mendapat pernapasan buatan (respirator),
obat-obat antikolinesterase tidak diberikan terlebih dahulu, karena obat-obat
ini dapat memperbanyak sekresi saluran pernapasan dan dapat mempercepat
terjadinya krisis kolinergik. Setelah krisis terlampaui, obat-obat dapat mulai
diberikan secara bertahap, dan seringkali dosis dapat diturunkan.
2)
Krisis
kolinergik
Krisis
kolinergik yaitu respons toksik akibat kelebihan obat-obat antikolinesterase.
Hal ini mungkin disebabkan karena pasien tidak sengaja telah minum obat
berlebihan, atau mungkin juga dosis menjadi berlebihan karena terjadi remisi
spontan. Golongan ini sulit dikontrol dengan obat-obatan dan batas terapeutik
antara dosis yang terlalu sedikit dan dosis yang berlebihan sempit sekali.
Respons mereka terhadap obat-obatan seringkali hanya parsial. Status
hiperkolinergik ditandai dengan peningkatan motilitas usus, konstriksi pupil,
bradikardia, mual dan muntah, berkeringat, diare, serta dapat pula timbul gawat
napas. Tindakan terhadap kasus ini adalah:
a)
kontrol
jalan napas
b)
penghentian
antikolinesterase untuk sementara waktu, dan dapat diberikan atropine 1 mg
intravena dan dapat diulang bila perlu. Jika diberikan atropine, pasien harus
diawasi secara ketat, karena sekret saluran napas dapat menjadi kental sehingga
sulit dihisap atau mungkin gumpalan lender dapat menyumbat bronkus, menyebabkan
atelektasis. Kemudian, antikolinesterase dapat diberikan lagi dengan dosis yang
lebih rendah
c)
bila
diperlukan: obat imunosupresan dan plasmaferesis.
Untuk
membedakan kedua tipe krisis tersebut dapat diberikan tensilon 2-5 mg
intravena. Obat ini akan memberikan perbaikan sementara pada krisis miastenik,
tetapi tidak akan memberikan perbaikan atau bahkan memperberat gejala-gejala
krisis kolinergik.
Perbedaan
kedua krisis di atas secara rinci disajikan dalam tabel berikut:
Krisis miastenia
|
Krisis kolinergik
|
1.
Meningkatnya
tekanan darah
2.
Takikardia
3.
Gelisah
4.
Ketakutan
5.
Meningkatnya
sekresi bronkhial, air mata dan keringat
6.
Kelemahan otot
umum
7.
Kehilangan
refleks batuk
8.
Kesulitan
bernafas, menelan dan bicara
9.
Penurunan
output urine
|
1.
Menurunnya
tekanan darah
2.
Bradikardia
3.
Gelisah
4.
Ketakutan
5.
Meningkatnya
sekresi bronkhial, air mata dan
keringat
6.
Kelemahan otot
umum
7.
Kesultan
bernapas, menelan dan bicara
8.
Mual, muntah
9.
Diare
10. Kram
abdomen
|
Selain
kedua krisis tersebut, miastenia gravis juga dapat menimbulkan komplikasi
berikut:
1.
gagal
nafas
2.
disfagia
3.
pneumonia
4.
komplikasi
sekunder dari terapi obat (terutama penggunaan steroid yang lama), yaitu:
osteoporosis, katarak, hiperglikemi, gastritis, penyakit peptic ulcer, dan
pneumocystis carinii.
2.9 Prognosis
Prognosis
dari miastenia gravis adalah:
a.
tanpa
pengobatan angka kematian MG 25-31%
b.
MG
yang mendapat pengobatan, angka kematian 4%
c.
40%
hanya MG dengan gejala okuler
BAB
3. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
MIASTENIA
GRAVIS
3.1
Pengkajian
1.
Anamnesis
a.
Identitas klien: nama, alamat, umur, jenis kelamin,
dan status (pekerjaan, perkawinan)
b. Keluhan utama:
kelemahan otot, terutama setelah beraktivitas dan membaik setelah beristirahat
c. Riwayat
kesehatan (riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat
penyakit keluarga): Riwayat kelemahan otot setelah
aktivitas dan pemulihan kekuatan parsial setelah istirahat menunjukkan
miastenia gravis, pasien mungkin mengeluh kelemahan setelah melakukan pekerjaan
fisik yang sederhana, riwayat adanya jatuhnya kelopak mata pada pandangan atas
dapat menjadi signifikan, juga bukti tentang kelemahan otot.
d.
Pengkajian psikososiokultural: gangguan emosi,
gangguan citra diri
2.
Pemeriksaan Fisik
a.
B1 (Breathing): penurunan kemampuan batuk
efektif, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu pernapasan,
peningkatan frekuensi napas akibat kelemahan otot-otot pernapasan, dan adanya
bunyi napas tambahan (ronkhi atau stridor)
b.
B2 (Blood): denyut nadi dan tekanan darah
berubah seiring status pernapasan
c.
B3 (Brain): pengkajian syaraf kranial (I, II,
III, IV, dan VI), pengkajian refleks, dan pengkajian sistem sensorik
d.
B4 (Bladder): berkurangnya volume pengeluaran
urine akibat penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal
e.
B5 (Bowel): mual dan muntah akibat
peningkatan produksi asam lambung, pemenuhan nutrisi kurang akibat
ketidakmampuan menelan
f.
B6 (Bone): kelemahan otot-otot volunter yang
menghambat mobilitas dan mengganggu aktivitasperawatan diri
3.
Pemeriksaan Penunjang
a.
Pemeriksaan laboratorium: Anti-acetylcholine
receptor antibody, Anti-striated muscle, dan Interleukin-2 receptor
b.
Pemeriksaan radiologi: Rontgen thoraks, CT thoraks,
MRI otak dan orbita
c.
Ice pack test
d.
Tes Tensilon menggunakan edrofonium chlorida
e.
Pemeriksaan antibodi terhadap reseptor ACh
f.
Repetitive nerve stimulation (RNS)
g.
Single Fiber EMG (SFEMG)
3.2
Pathways

3.3
Diagnosa Keperawatan
1.
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan
kelemahan otot pernapasan
2.
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan
akumulasi sekret, kemampuan batuk menurun
3.
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
kelemahan otot-otot volunter
4.
Gangguan keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan menelan
5.
Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan
disfonia, gangguan berbicara
6.
Gangguan citra diri berhubungan dengan ptosis,
ketidakmampuan komunikasi verbal (berbicara)
7.
Risiko tinggi aspirasi berhubungan dengan penurunan
kontrol tersedak dan kemampuan batuk efektif
3.4
Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Utama: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kelemahan otot-otot
pernafasan
Tujuan:
Dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi, pola pernapasan pasien
kembali efektif
Kriteria
hasil:
a.
irama,
frekuensi dan kedalaman pernapasan dalam batas normal;
b.
bunyi
nafas terdengar jelas;
c.
respirator
terpasang dengan optimal
Intervensi:
1.
kaji
kemampuan ventilasi
2.
kaji
kualitas, frekuensi, dan kedalaman pernapasan; laporkan setiap perubahan yang
terjadi
3.
baringkan
klien dalam posisi yang nyaman atau dalam posisi duduk
4.
observasi
tanda-tanda vital (nadi, RR, TD)
5.
pasang
ventilator mekanik bila diperlukan
6.
pantau
status pernapasan pasien secara periodik dan waspadai adanya tanda-tanda krisis
yang mengancam seperti distres pernapasan mendadak, takikardi dan ansietas
7.
pantau
respon pasien terhadap terapi obat, kaji efek obat
8.
ajari
pasien memposisikan kepala pada posisi yang sedikit fleksi untuk melindungi
jalan napas ketika sedang makan
9.
kolaborasi
pemberian obat-obatan antikolinergik
3.5
Evaluasi
Diagnosa utama: setelah dilakukan
intervensi selama 3 X 24 jam, pasien mencapai fungsi pernapasan yang adekuat
Kriteria
hasil:
a. Pasien mampu menunjukkan frekuensi
pernapasan dan kedalaman pernapasan normal
b. Pasien tidak lagi menggunakan otot bantu
pernapasan dalam bernapas
c. Pasien menaati jadwal medikasi yang
ditetapkan
d. Pasien mampu menghindari situasi yang
dapat mencetuskan flu dan infeksi yang dapat memperberat gejala
BAB 4. KESIMPULAN
Miastenia
gravis (MG) adalah suatu kelainan autoimun saraf perifer berupa terbentuknya
antibodi terhadap reseptor pascasinaptik asetilkolin (ACh) nikotinik pada myoneural
junction. Penurunan jumlah reseptor ACh ini menyebabkan penurunan kekuatan
otot yang progresif dan terjadi pemulihan setelah beristirahat. Biasanya, gangguan ini
menyerang otot yang dikendalikan oleh saraf kranial (wajah, bibir, lidah,
leher, dan tenggorokan), tetapi dapat juga menyerang otot-otot lainnya.
Miastenia gravis menyebabkan kegagalan dalam transmisi impuls saraf pada
sambungan neuromuskuler akibat reaksi autoimun atau tidak berfungsinya
aktivitas neurotransmiter. Manifestasi klinisnya di antaranya kelemahan
pada otot skeletal yang memburuk ketika digerakkan dan membaik ketika
beristirahat, kelemahan otot ekstra okular atau EOM yang menyebabkan Ptosis (turunnya
kelopak mata), penglihatan ganda (dislobia), kelemahan otot bulbar
(otot-otot lidah), kelemahan otot leher dan tenggorokan, kelemahan otot pada
ekstremitas, gangguan bicara (disfonia), dan kelemahan otot pernapasan
yang berakibat kegagalan pernapasan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart.
1996. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Carpenito. 2001. Handbook of Nursing Diagnosis. Jakarta: EGC.
Corwin, Elizabeth J.
2009. Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa oleh Nike Budhi Subekti.
Jakarta: EGC.
Dewanto, dkk. 2009. Panduan
Praktis Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Syaraf. Jakarta: EGC.
Doengoes. 2000. Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian. Jakarta: EGC.
Harsono.1996.
Buku Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Mardjono. 2003. Neurologi
Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.
Muttaqin, Arif. 2009. Pengantar
Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan. Jakarta:
Salemba Medika.
Price
& Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC.
Sidharta. 1999. Neurologi
Klinis dalam Praktek Umum.
Jakarta: Dian Rakyat.
Sidharta. 1999. Tata
Pemeriksaan Klinis Dalam Neurologi. Jakarta: Dian Rakyat.
1 komentar:
Wynn's new casino, Wynn, opens Thursday | DrmCD
Wynn Las Vegas 양산 출장샵 and Encore casino have two distinct towers in the Wynn Collection, one in Las Vegas, the other 충청북도 출장마사지 in Wynn Las Vegas 충청북도 출장마사지 and the 안성 출장마사지 other 양주 출장안마
Posting Komentar